Legenda Si Kura-Kura dan Burung Garuda
Ketulusan yang Berbuah Petaka
Dahulu kala, di sebuah hutan yang subur dekat danau di daerah Silindung, tinggallah seekor kura-kura yang setiap hari memandangi langit. Ia sangat mengagumi burung-burung yang terbang bebas di atasnya, terutama burung Garuda yang gagah dan megah membelah awan. Dalam hati kecilnya, sang kura-kura sering bertanya-tanya, “Mengapa aku tidak punya sayap? Aku juga ingin melihat dunia dari atas, seperti burung-burung itu.” Keinginan itu terus tumbuh di dalam dirinya, sampai suatu hari ia nekat mendatangi burung Garuda.
Dengan penuh harap, kura-kura itu berkata kepada sang burung, “Wahai Garuda, bolehkah aku ikut terbang bersamamu ke langit? Aku ingin sekali melihat dunia dari atas awan.” Burung Garuda awalnya ragu—ia tahu kura-kura tidak diciptakan untuk terbang, dan langit bukanlah tempatnya. Namun karena iba pada keinginan sang kura-kura, Garuda akhirnya setuju. Ia mengangkat kura-kura dengan paruhnya dan mulai terbang tinggi ke angkasa.
Angin lembut menyapu tempurung sang kura-kura saat ia menatap dunia dari atas. Ia melihat hamparan hutan hijau, sungai yang mengalir tenang, dan atap rumah-rumah kecil yang seperti mainan dari kejauhan. Ia benar-benar kagum dan bahagia. Tapi di tengah kebahagiaan itu, Garuda mengingatkan, “Jangan sekali-kali berbicara atau bersuara. Jika kau membuka mulut, aku bisa kehilangan cengkeramanku, dan kau akan jatuh.” Sang kura-kura mengangguk penuh semangat dan mencoba menahan diri.
Namun, saat pemandangan semakin menakjubkan, ia tidak mampu menahan rasa takjubnya. Tanpa sadar, ia membuka mulutnya lebar dan berteriak, “Waaaah! Lihat itu!!” Dalam sekejap, seperti yang telah diperingatkan, tubuhnya terlepas dari paruh Garuda dan meluncur jatuh dari ketinggian. Ia menghantam batu besar di bawah dan tempurungnya pecah berantakan. Sejak saat itu, konon semua kura-kura memiliki retakan pada tempurungnya, sebagai warisan dari kejatuhan sang kura-kura yang bermimpi terlalu tinggi.
Cerita ini mengajarkan bahwa kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki dan tidak memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Dalam hidup, keinginan yang besar harus diimbangi dengan kesadaran akan batas diri. Terkadang, terlalu memaksakan diri untuk sesuatu yang bukan tempat kita bisa berujung pada kehancuran. Selain itu, mendengarkan nasihat dari orang bijak yang lebih berpengalaman adalah hal yang sangat penting, terutama saat kita sedang diberi kepercayaan atau kesempatan besar. Kesombongan dan kegembiraan yang berlebihan bisa membuat kita lengah, dan dari situlah banyak petaka bisa bermula.